30 June 2012

Brave



Cast :

Kelly Macdonald : Merida
Emma Thompson : Elinor
Billy Connolly : Fegus 
Julie Walters : The Witch

Sinopsis :

Brave menceritakan tentang Princess Merida, puteri tunggal dari pasangan King Fergus dan Queen Elinor yang menguasai kerajaan DunBroch. Terlahir di sebuah kerajaan yang dipenuhi berbagai peraturan, Princess Merida merasa bahwa kehidupannya selalu terkekang, khususnya oleh sang ibu yang memiliki harapan besar agar dirinya mampu mengikuti jejaknya sebagai seorang puteri kerajaan yang harus bersikap lembut dan anggun di setiap saat. Jelas sebuah tekanan besar bagi Princess Merida yang memiliki hobi berkuda dan memanah layaknya kaum pria.

Tekanan tersebut semakin kuat setelah tiba-tiba, King Fergus dan Queen Elinor memberitahu Princess Merida bahwa mereka akan menggelar sebuah kompetisi untuk mencari pria yang pantas untuk menikahinya. Princess Merida jelas merasa tidak setuju dengan keputusan tersebut dan menilai bahwa sebuah pernikahan hanya akan mengakhiri kebebasannya. Ia lalu melarikan diri dari kerajaan. Dalam pelariannya, Princess Merida bertemu dengan kumpulan peri berwarna biru yang dipercaya akan membawa seseorang pada jalan hidup yang mereka inginkan.

Review :

Begitu tau Pixar ngeluarin animasi lagi, gua exited banget. Seperti kata Raditya Dika, Pixar selalu memasukan "hati" dalam setiap animasinya. Tapi nampaknya ekpektasi gua terlalu tinggi ya, Brave agak jauh dari apa yang gua bayangkan. Film ini merupakan pertama kalinya Pixar menggunakan wanita sebagai tokoh utamanya. Princess Merida tentu menambah daftar putri-putri dari Disney. Tapi jangan bayangkan dia seanggun Cinderella atau secantik Snow White. Film ini mengambil tema tentang hubungan orangtua dan anak. Sebelumnya kita pernah melihat animasi Pixar dengan tema serupa dalam Finding Nemo.

Ceritanya masih mengandung pelajaran berharga yang bisa kita petik. Tapi buat gua, terlalu standard. Pixar nampaknya bermain aman. Apalagi, gua agak terganggu dengan adegan-adegan awal dimana Merida suka teriak-teriak sama ibunya. Ditambah pula, dia menggunakan sihir kepada ibunya sendiri. Tapi ada kelebihannya. Kita gak akan ngeliat hubungan ibu dan anak yang rusak dan berakhir dengan sang ibu menyadari kesalahannya. Disini, kita akan ngeliat dimana ibu dan anak sama-sama mencoba berubah dan belajar dari kesalahan masing-masing. Khas Pixar memang. 

Animasi Pixar, tentu ga perlu diragukan lagi. Dengan mengambil setting di Skotlandia, Pixar menawarkan kualitas animasi yang memanjakan mata. Bahkan pemandangannya pun nyaris seperti aslinya. Tapi, tone warnanya agak sedikit gelap daripada animasi Pixar sebelumnya. Terlebih lagi, penggambaran hutannya didominasi warna abu-abu gelap. Cuma sayang, ekspresi Merinda ketika lagi nangis, kayaknya kurang menyentuh ya. 

Untuk soundtracknya, menurut si pacar sih kurang bagus. Tapi buat gua, pas dengan settingannya, jadi musik-musiknya rata-rata ala Skotlandia. Gua suka lagu yang ada di awal, dimana Merinda manjat-manjat tebing buat minum air dari air terjun. Scoringnya juga didominasi dengan musik ala Skotlandia. Tapi memang seharusnya bisa jauh lebih baik lagi.

Walaupun masih memasukan "hati" dalam film ini, tapi ini bukan yang terbaik dari Pixar. Buat gua, kayaknya film ini belom bisa ngalahin pesonanya Toy Story 3 atau Wall-E. Tapi buat para penggemar Pixar, film ini bolehlah untuk ditonton. Hanya saja, jangan terlalu berharap banyak. Untuk anak-anak, kayaknya terlalu gelap dan kurang cocok. Tapi boleh juga sih kalo mau ajak anak-anak untuk nonton. 

Gua malah lebih suka short animation di awal pemutaran film ini. Film yang berdurasi kira-kira 7 menit ini bener-bener bagus banget. Dan setelah cek mbah google, film berjudul La Luna tersebut ternyata pernah masuk nominasi oscar untuk kategori Best Animated Short Film. Semoga ke depan, Pixar bisa ngeluarin animasi dengan kualitas seperti Toy Story 3 atau Wall-E.

29 June 2012

Kutukan Semifinal

Semalem, gua sebel banget. Lagi-lagi Jerman harus mentok di semifinal. Dari babak pertama mainnya uda ga sebagus sebelum-sebelumnya. Begitu masuk babak kedua, gua uda males nonton. Langsung matiin TV dan bobo. Pas bangun pagi-pagi, liat berita kalo Jerman kalah. Aaaahh, sedih banget.

Btw, track record gua dalam mendukung tim selalu mentok di semifinal. Mulai dari world cup yang diselenggarain di Korea Selatan-Jepang. Itu pertama kalinya gua bener-bener nonton bola dari babak penyisihan grup sama final. Yang sebelumnya, di Prancis kalo ga salah, gua cuma baca-baca beritanya doang. Pas world cup itu gua dukung Korea Selatan, karena sesama Asia, dan mereka bisa ngalahin tim-tim kuat. Ternyata, Korea Selatan harus puas mentok di semifinal.

Waktu world cup 4 tahun berikutnya di Jerman, gua megang tim Jerman. Soalnya, waktu itu gua demen banget ngeliat Klose. Doi jago banget euy, apalagi waktu bikin gol ga norak kayak pemain-pemain lain. Tapi lagi-lagi Jerman harus puas mentok di semifinal. Untung pas perebutan peringkat ketiga, mereka menang. 4 tahun berikutnya pun juga sama, Jerman lagi-lagi mentok di semifinal. Dan di Euro tahun ini juga sama, semifinal juga. Haiz...berasa ada yang salah ga sih. Kenapa semua tim yang gua dukung harus mentok di semifinal? Harusnya ya semalem gua megang Italia aja kali ya, biar Jerman menang.

Di final nanti Spanyol ketemu Italia. Kalo Spanyol ampe menang, berarti mereka tiga kali berturut-turut menjuarai event besar. Mulai dari Euro 4 tahun lalu, World Cup 2010, dan Euro 2012 kalo menang. Ada yang bisa menghentikan mereka? hahahaha. Tim Spanyol emang jago-jago sih. Kipernya juga ganteng pula, hahaha. Yaa...siapapun yang menang, gua tetep dukung Jerman untuk peringkat ketiga. Bola itu bundar kawan. 

28 June 2012

Kiyadon - Central Park Mall

Minggu lalu, si pacar dinner bareng temen-temen lamanya di Kiyadon, Central Park. Sebelumnya gua uda sering liat Kiyadon baik di Taman Anggrek maupun di Central Park, cuma ga pernah masuk. Ngeliat dari tempatnya uda bisa perkirain sih kalo harganya pasti mahal-mahal. Pas minggu lalu, akhirnya gua nyoba juga.

Interior di Central Park beda sama di Taman Anggrek. Kalo di Central Park konsepnya semacam hutan-hutan ga jelas gitu. Banyak pohon-pohon buatannya, plus cahayanya juga remang-remang. Tempatnya sendiri lumayan luas sih. Cuma servicenya agak kurang ya. Pas kita uda duduk, pelayannya langsung ninggalin gitu aja, padahal buku menunya belom dikasih. Manggilin pelayannya juga agak susah. 

So far, makanannya masih seputar Japanese food. Karena pada doyan sushi, jadi menu yang diorder hampir semuanya sushi. Berikut ini menu-menu yang kita order.

Two - Three Quarters
78.000 IDR
Ini nasi yang dibungkus ikan salmon. Gua lupa isi dalemnya apaan. Yang pasti ini enak banget. Salmonnya berasa banget di mulut, tapi ga amis. Kayaknya ini termasuk menu andalannya Kiyadon deh.

Dark Green
18.000 IDR
Yang ini biasa aja. Rasanya standard.

Salmon Skin Roll
25.000 IDR
Ini agak crunchy-crunchy gitu, lumaya sih rasanya.

Kimchi Maki
50.000 IDR
Pas ngeliat menu ini, penasaran abis dan langsung order. Buat gua, kayak makan kimchi pake nasi. Dan ini enak banget. Buat yang doyan kimchi kayaknya kudu nyoba.

Spicy Salmon Fried
35.000 IDR
Ini juga enak, cuma kurang spicy aja sih.

Yaki Onigiri 
18.000 IDR
Ini diorder atas keinginan gua, hahaha. Dan ini onigiri kedua yang gua makan. Yang pertama dulu beli di Okirobox kalo ga salah. Dulu gua pikir ya, onigiri ini isinya cuma nasi tok, ternyata ada isinya juga toh. Yang di Kiyadon ini enak banget, bentuknya juga lumayan gede. Dan lagi-lagi gua selalu ngiler kalo ngeliat onigiri gara-gara baca Miiko, hahaha. 

Cold Ocha
10.000 IDR

Ini yang tersaji di meja.

Overall sih kita lumayan puas makan disini, makanannya lumayan enak. Tapi buat gua, tetep ga ada yang bisa ngalahin enaknya Sushi Tei, hahahaha. Buat para penggemar sushi, Kiyadon bisa dijadiin alternatif pilihan. Next time pengen nyoba yang ada di Taman Anggrek nih. Mungkin ada yang mau traktir gua? huahahaha. 

Kiyadon
UG Floor #120-125
Central Park Mall
Telp (021) 56985268

27 June 2012

Abraham Lincoln Vampire Hunter

 

Cast :

Benjamin Walker : Abraham Lincoln
Dominic Cooper : Henry Sturgess
Anthony Mackie : Will Johnson
Mary Elizabeth Winstead : Mary Todd Lincoln

Sinopsis :

Abraham menyimpan dendam karena sang ibu, Nancy Lincoln, dibunuh oleh seorang vampir karena hutang yang dimiliki sang ayah, Thomas Lincoln. Pada awalnya, Thomas berhasil membuat Abraham berjanji bahwa ia tidak akan berbuat bodoh dan menuntut balas pada sang vampir. Sekian tahun berlalu, dan tepat ketika sang ayah meninggal dunia, Abraham lalu memutuskan untuk melanjutkan niat balas dendamnya. Disinilah ia bertemu dengan Henry Sturges yang akan mengajarinya banyak hal tentang cara menjadi seorang pemburu vampir.

Di saat yang sama, Abraham juga berusaha memperbaiki strata hidupnya dengan mempelajari ilmu hukum dan berniat menjadi seorang pengacara. Maka, jadilah Abraham Lincoln sebagai sesosok pemuda yang berambisi untuk menjadi seorang pemimpin yang baik di kala siang dan menjadi seorang pemburu vampir di kala malam. Namin, pertemuannya dengan kekasih hatinya, Mary Todd, membuat Abraham memutuskan untuk berhenti menjadi seorang pemburu vampir dan meneruskan karirnya di bidan politik. Keputusan yang kemudian harus dibayar mahal ketika kumpulan vampir yang ternyata telah mengenali sang pemburu mereka kemudian mulai menyusun rencana untuk balas dendam.

Review :

Film yang diangkat dari novel ini merupakan gabungan antara fiksi dan sejarah. Menggabungkan dua hal itu memang tidak mudah, tapi sang sutradara, Timur Bekmambetov, mampu membuat kedua elemen tersebut menjadi jalanin cerita yang menarik. Walaupun unsur fiksinya jauh lebih kuat daripada unsur sejarahnya, namun film ini tetap menarik untuk ditonton.

Jalan ceritanya lumayan bisa dinikmatin dan bukan termasuk film yang tergolong berat. Alurnya berjalan seperti film-film kebanyakan. Dimulai dari sang anak yang melihat kematian ibunya, lalu memulai kisah hidupnya untuk balas dendam. Menarik memang melihat bagaimana calon presiden Amerika Serikat memburu para vampir-vampir tersebut. Walaupun agak menjemukan di awal, tapi gua suka gimana si sutradara membuat klimaks film ini menjadi sesuatu yang menarik. Apalagi, klimaksnya lumayan bikin tegang.

Film ini juga diproduseri oleh Tim Burton. Makanya, kita bisa melihat nuansa-nuansa gothic ala Tim Burton. Didominasi oleh warna gothic dan coklat-coklat tua, setting film ini jadi keliatan bagus banget. Gua suka banget ngeliat settingnya yang detail, kesan classicnya dapet banget. Special effect pada vampir-vampirnya juga bagus banget. Saking bagusnya, gua ampe ngeri sendiri tiap kali si vampir mau mulai ngisep darah orang.

Menurut gua, kelemahan film ini terletak pada akting si tokoh utama. Entah kenapa, buat gua, aktingnya terkesan biasa aja. Walaupun sosoknya dibuat nyaris mirip Abraham Lincoln asli, tapi sebagai presiden, dia ga terlalu keliatan berwibawa. Bahkan chemistrynya dengan Mary Elizabeth ga terlalu dapet. Untungnya, semua terselamatkan dengan action-actionnya yang mantap. Walaupun ga sedahsyat filmnya Timur yang juga pernah gua tonton, Wanted, tapi action-actionnya patut diacungi jempol. 

Satu lagi yang gua ga suka dari film ini, adegan ngagetinnya bikin jantungan. As you know, gua ga suka segala sesuatu yang bikin kaget. Jadilah selama adegan-adegan ngagetin itu, si pacar harus rela gua pukul-pukulin, hahahaha. Kenapa dipukul? Reflek. Tiap kali ada adegan yang bikin kaget, bawaannya pengen mukul aja. Sepanjang film, si pacar harus pasrah gua gebuk-gebukin. Sapa suruh ngajak gua nonton film beginian, hahaha.

Walaupun film ini tentang vampir, jangan harap kalian akan ngeliat vampir ganteng ala Robert Cullen. Penampakan vampir di film ini jauh lebih sadis. Buat yang suka petualangan dan horor, film ini bisa dijadikan alternatif pilihan. Kemaren kebetulan gua nonton 3Dnya, lumayan bagus sih. Btw, lagi bujuk-bujuk si pacar buat nonton Brave nih.

25 June 2012

Do Fun At Dufan

Dulu gua demen banget baca komik, terutama serial-serial cantik yang romantis abis itu. Biasanya, kalo di komik-komik itu, si cewe dan cowo selalu nge-date di taman hiburan. Gara-gara itu, dari dulu gua pengen banget ke taman hiburan bareng pacar. Satu-satunya taman hiburan di Jakarta yang "lumayan" mirip sama di komik kan cuma Dufan. Berbekal tiket dari livingsocial, hari Sabtu kemaren akhirnya si pacar mau juga diajak ke Dufan. 

Kita pergi naik busway, berangkat dari rumah kira-kira jam 8an. Kenapa naik busway? Karena kalo bawa mobil, masuk ancolnya itu mahal. Kita naik dari halte Indosiar, ganti bis di Harmoni menuju ke arah Pulogadung, trus turun di Senen ganti bis lagi yang ke arah Ancol. Yeah! Busway emang rempong. Tapi turunnya pas di Ancolnya. Kita bayar 15.000 IDR buat tiket masuk Ancol. Kita nyampe di Ancol kira-kira jam 9 lewat.

Tiket busway yang masih disimpen, hahaha. 

15.000 IDR buat masuk Ancol. Ya...masih worth it lah.

Keluar dari halte, jalan dikit uda langsung nyampe Dufannya, trus langsung nukerin tiketnya. Kita sempet salah ngantri juga sih. Tadinya ngantri di loket buat pembelian. Ternyata kalo bawa e-ticket dari livingsocial ngantrinya di loket yang deket Starbucks. Nyampe sana, ternyata masih tutup. Nunggu kira-kira setengah jam, akhirnya loketnya dibuka juga. Proses penukaran tiketnya sebentar banget. Ga lama, tiket Dufan pun di tangan. Yipie! Dufan, we're coming.

Tiket yang didapat dari livingsocial. Thx's ya :)

Btw, tau harga Dufan sekarang berapa? 250.000 IDR. Gila ya, mahal bener. Jaman gua terakhir dulu ke Dufan aja masih 100.000an, itu aja gua uda mikir mahal. Coba bayangin kalo 1 keluarga ada 4 orang mau ke Dufan, kudu ngeluarin 1 juta. Agak ga worth it sih. Apalagi kalo bawa baby-baby atau anak kecil ke Dufan, kayaknya rugi banget. Makanya pas masuk gua kaget, sepi banget. Saking sepinya, kita bisa naik wahana-wahana favorit tanpa perlu ngantri. Tadinya gua pikir, ini musim liburan anak sekolah, pasti rame. Ternyata ga ngaruh. 

Begitu nyampe, wahana yang pertama kali kita naikin tentu Kora-kora. Ini wahana favorit gua dari dulu. Gua mau banget kalo disuruh naik berkali-kali. Ga tau ya, sensasinya itu bikin seru. Sayang, si pacar kurang suka naik ini, hahaha. Makanya pas naik kedua kalinya, dia jadi fotografer ajah. Ngomongin Kora-kora, gua jadi inget satu scene di The King 2 Hearts. Disitu si raja (Lee Seung Gi) naik permainan semacam Kora-kora bareng orang-orang dari Korea Utara, dan mereka ga teriak sama sekali. Gokil! Bisa ya naik Kora-kora ga teriak. Gua sih susah loh.

 That's my favourite. Duduk paling ujung paling asik tuh.

Dari situ kita sempet bingung mau naik apa. Karena baru buka, ada beberapa wahana yang masih tes mesin. Pas lagi jalan ngeliat Hysteria. Tadinya gua pengen liat dulu itu wahana cara kerjanya gimana, tapi karena sepi dan ga ngantri, akhirnya kita masuk aja. Ternyata oh ternyata, ini wahana paling ga sopan. Jadi...kita dinaikin pelan-pelan, trus turun lagi pelan-pelan tapi cuma dikit. Tiba-tiba, ga ada persiapan apa-apa, tau-tau langsung dinaikin ke atas trus dijatohin ke bawah, dinaikin lagi, dijatohin lagi, dan selesai. 

Itu uda yang paling tinggi. Karena kemaren sepi abis, jadi yang main cuma 1 doang.

Gua pernah naik wahana semacam ini di Cina. Bedanya, pas di Cina kita dinaikin pelan-pelan trus diberentiin dulu baru abis itu dijatohin. Jadi ada ancang-ancang (ini bahasa apa coba) buat teriak. Di Hysteria ini, gua ga ada persiapan apa-apa, tau-tau langsung dikagetin gitu. Bener-bener ga sopan deh. Mainnya juga sebentar banget. Kayaknya sih ga ada 2 menit. Untung ga pake ngantri. Agak nyesek ya kalo ngantri lama trus mainnya sebentar. Tapi seru sih, patut dicoba.

Selanjutnya, kita naik alap-alap. Ini wahana rollercoaster, tapi masih termasuk ringan, jadi ga ampe dibikin jungkir balik. Ya, lumayanlah buat nurunin heart rate setelah Hysteria, hahaha. Seinget gua, ini wahana cuma diputer dua kali. Tapi lagi-lagi karena kemaren sepi, pas kita main sampe diputer lima kali. Buat yang takut ketinggian tapi pengen teriak-teriak, bisa dicoba main ini.

Abis nyobain rollercoaster versi ringan, sekarang nyobain rollercoaster versi beratnya. Yup, kita ke Halilintar. Halilintar ini rollercoaster yang mainnya ampe dibalik-balik. Setelah nyobain rollercoaster yang ada di USS, Halilintar sih ga ada apa-apanya *tsah* 

Dari situ lanjut lagi ke Simulator. Di Simulator itu kita kayak nonton film, tapi kursinya bisa goyang-goyang gitu. Dulu seinget gua filmnya robot-robot gitu deh, sekarang uda ganti jadi Happy Feet. Sayang nontonnya ga 3D. Kayaknya kalo 3D bakal keren banget tuh. Ini wahana lumayanlah buat ngadem, hahaha. 

Setelah nurunin heart rate, kita langsung nyoba dua wahana yang menantang sekaligus. Kicir-kicir dan Tornado. Dua wahana ini paling extreme di Dufan. Kalo Kicir-kicir, kita diputer-puter, trus bangku tempat kita duduk juga diputer-puter lagi. Kalo Tornado, ga cuma sekedar diputer-puter doang, tapi pas posisi kaki di atas kepala di bawah, kita diberentiin sebentar. Di dua wahana ini kita bener-bener pasrah ama mesin. Tapi buat gua, Tornado masih lebih horor daripada Kicir-kicir. Soalnya pas distop dalam posisi kebalik itu, berasa darah ada di kepala semua, hahaha. Silakan ditonton rekamannya.

Selama 3 menit kita diputer-puter ama si mesin. Tapi seru sih, gua kalo disuruh naik lagi sih mau, hehehe. 

Kalo lagi stress dan butuh teriak-teriak, disarankan untuk naik wahana ini.

 Setelah permainan berakhir, terlihat wajah-wajah pucat, hahaha.

Fyi, gua bukan tipe orang yang takut ketinggian. Cuma kalo disuruh main hal-hal yang menantang begitu, agak sedikit ragu-ragu. Tapi....rasa penasaran gua lebih tinggi daripada rasa takutnya. Jadi, begitu ngeliat sesuatu yang menantang gua jadi pengen nyoba. Makanya ampe sekarang gua penasaran banget sama Bungee Jumping, hahaha.

Lanjut. Selesai main kedua itu, kita langsung mutusin buat lunch. Pas lagi jalan, nemu Rumah Jail dan Rumah Miring, masuk deh. Rumah Jail itu di dalemnya kaca semua. Semacam labirin gitu. Yang bikin sih jago loh. Pas mau keluar, sempet ketipu beberapa kali sama kaca-kaca yang ada. Kalo Rumah Miring yah dalemnya dimiringin gitu. Cuma gua agak-agak pusing pas di Rumah Miring. Mungkin karena abis naik Tornado kali ya.

Kita lunch di McD, yang uda ketauan rasanya gimana. Selesai lunch, kita nonton show "Dufan The Defender" Karena shownya mulai jam 2 siang, kita duduk-duduk dulu sambil nurunin makanan. Jam setengah 2, kita mulai ngantri buat masuk. Di sini lumayan rame sih. Trus shownya gimana? Standard abis. Mereka harusnya bisa bikin yang jauh lebih niat. Sayang ga gua rekam. Padahal ya, lightingnya uda lumayan keren, tapi cerita dan kostumnya tuh bener-bener biasa banget. Oiya, show ini mainnya di Rama Sinta Hall. Yang dulu bekas wahana Rama Sinta.

 Setelah show berakhir, dikasih kesempatan kalo mau foto-foto sama para pemainnya.

Abis dari situ, kita sempet ngantri buat wahana Perang Bintang. Cuma pas lagi ngantri-ngantri eh mbanya bilang kalo kursinya ada yang rusak. Zzzzz... Akhirnya kita ke Pontang-Panting. Tips kalo mau naik wahana ini, jangan duduk deket pintu, kegencet-gencet melulu. Si pacar kegencet gua melulu tuh pas lagi main, hahaha. 

Dari situ, baru naik Arung Jeram. Siap-siap basah kuyup deh disini. Di Arung Jeram ini lumayan sih ngantrinya, tapi ga sepanjang dulu. Trus lanjut ke Niagara. Gua duduk paling depan, hahaha. Uda terlanjur basah kuyup, sekalian aja deh. Di Niagara juga ngantrinya ga panjang-panjang amat. Trus sempet duduk sebentar buat nontonin orang-orang naik Tornado, hahaha. Trus jam 5 nonton parade yang....ga jelas itu parade apaan. 

Jangan lupa bawa baju ganti dan celana juga kalo mau naik ini. Hampir semua kursi pasti kena basah.

Siap-siap.... 

Byuuuuurrr....

Karena gua cinta banget sama Kora-kora, jadilah abis itu gua naik Kora-kora untuk kedua kalinya, sendirian, hahaha. Kalo naik Kora-kora ya, gua paling suka duduk paling belakang. Paling asik. Apalagi kalo pas lagi tinggi-tingginya, asik banget, hahaha. Trus kita naik Bianglala dan terakhir komedi putar. Lupa nama komedi putarnya apaan. Kalo uda malem bagus banget lampu-lampunya.

Bianglala ini cocoknya dimainin terakhir. Buat bikin heart rate stabil lagi, hahaha. Plus pemandangan sore malemnya bagus kalo dari atas. 

View from Bianglala.

Komedi Putar. Lagi-lagi jadi inget scene di The King 2 Hearts waktu si Jae Ha ditolong sama Hang Ah #salahfokus

Sekitar jam 7an, kita makan baso yang harganya 15.000 IDR. Kita cuma pesen satu buat dishare berdua. Soalnya di rumah, nyokap masak, jadi makan baso buat ganjel perut doang. Jam setengah 8, kita pulang naik busway. Seinget gua, dulu Dufan jam 6 sore uda tutup. Tapi sekarang dilamain jadi jam 9. Tapi kemaren, pas jam 7 uda sepi banget. Jadi berasa kayak punya Dufan saking sepinya. 

 Rasanya biasa aja sih. Tempat makan ini letaknya deket pintu keluar.

Oiya, sekarang di Dufan ada candid cameranya. Mirip kayak di USS. Jadi pas lagi main kita bisa diem-diem difoto, trus begitu selesai dikasih liat. 1 foto harganya 30.000 IDR. Lumayan mahal sih, tapi buat kenang-kenangan sih okelah. Tapi gua ga beli semuanya. Kenapa? Karena muka gua kalo lagi teriak jelek banget, hahaha.

Ternyata, ke taman hiburan kalo terlalu sepi juga ga enak, hahaha. Tapi hari itu gua puas banget. Si pacar kayaknya sih terpaksa puas, hahaha. Nemenin anak kecil main permainan yang menantang, sementara dia agak worried sama safetynya. Emang sih, ada beberapa wahana yang gua juga agak horor denger suara mesinnya, kayak ga mulus gitu. Tapi ya pasrahlah, hahaha. Dibawa enjoy aja. Hari itu jadi date yang paling nyenengin buat gua, hahaha. 

Btw, Dufan sekarang lagi ada promosi. Jadi kalo beli tiket seharga 250.000 IDR itu, kita bisa dapet free pass buat masuk Dufan gratis sampe Desember ini. Lumayan sih kalo mau buat ngilangin stress. Tapi ngeluarin 250.000nya agak nyesek ya. 

Makasih pacar *kiss*

Kebanyakan foto-foto captured by si pacar.

22 June 2012

Happy Birthday, Jakarta

Siapa yang pernah suka sama orang yang sangat kita sebelin? Gua sih ga pernah ya, tapi hubungan antara gua dan Jakarta nyaris mirip. Di satu sisi, gua uda sebel banget sama kemacetan Jakarta plus transportasi yang amburadul sana sini. Tapi di sisi lain, I love this city. Gua belom tentu yakin mau kalo disuruh pindah ke kota lain, secara gua uda tinggal disini dari lahir. 

Macetnya Jakarta itu uda bisa ketebak. Hampir setiap weekend, jalanan pasti penuh. Terutama jalanan di sekitar mall. Hari Jumat juga jalanan lebih macet dari biasanya, entah kenapa. Terutama kalo hari Jumat di tanggal-tanggal abis gajian, macetnya lebih dahsyat. Ujan turun pun juga bisa bikin macet. Ampe sekarang gua ga ngerti apa korelasinya antara hujan dan macet. Apalagi kalo ujannya turun di jam-jam orang pulang kantor, macetnya pasti.....ya begitulah kira-kira.

Siapa yang ga stress coba ngeliat jalanan model begini.
source : from here.

Sebagai warga Jakarta yang cinta sama kotanya, tentu gua berharap, siapapun gubernur yang terpilih nantinya bisa mengatasi masalah kemacetan ini. Ga usa muluk-muluk bikin Jakarta bebas macet, yang paling penting tuh transportasinya diberesin dulu. Dan ga usa muluk-muluk bikin MRT kalo kita ga bisa ngerawatnya. Coba liat gimana bentuk busway sekarang, makin banyak yang rusak sana sini.

Di umurnya yang ke-485, gua berharap kota ini ga terlalu kejam lagi sama warganya. Semoga makin tua makin jadi ya. Akhir kata...

"Dirgahayu Jakarta"

21 June 2012

The King 2 Hearts


Cast :

Lee Seung Gi : Lee Jae Ha
Ha Ji Won : Kim Hang Ah
Jo Jung Suk : Eun Shi Kyung
Yoon Je Moon : Kim Bong Goo / John Mayer 
Lee Yon Ji : Lee Jae Shin

Sinopsis :

This drama is set in modern day where South Korean is governed by a constitutional monarchy. Lee Jae Ha is a handsome and materialistic crown prince that doesn't care about politics. He falls for Kim Hang Ah, a North Korean special forces agent.

Sumber diambil dari sini.

Review :

I am a big fans of Lee Seung Gi, sejak nonton Brilliant Legacy untuk kedua kalinya. Mukanya emang ga seganteng Lee Min Ho atau Hyun Bin atau Kim Soo Hyun, tapi gua ngefans karena prestasinya yang segudang. Emang sih, ngefansnya ga ampe kayak jeng Ella, tapi cukup bikin gua penasaran untuk nonton drama terbarunya. Makanya pas tau Lee Seung Gi mau main drama lagi, gua exited banget. Tapi pas tau lawan mainnya Ha Ji Won, agak pesimis juga sih, karena dalam bayangan uda terekam Ha Ji Won - Hyun Bin, effect Secret Garden, hahaha. Dan pas tau judulnya, gua pikir ini drama dengan setting Joseon gitu. Tapi....ternyata gua salah sodara-sodara.

Jadi serial ini bersetting Korea dengan pemerintahan Monarki Konstitusional, dimana yang memimpin adalah Raja. Mengambil setting seperti ini tentu harus dibarengin dengan jalan cerita yang ga terlalu membosankan. Lagi-lagi gua harus angkat jempol sama penulis naskahnya. Jalan ceritanya ga cuma sekedar bagus, tapi amazing. Gua suka ngeliat gimana si penulis membuat beberapa negara nyaris perang hanya karena pengaruh satu orang. Gua juga suka ngeliat gimana si penulis membuat karakter masing-masing tokoh menjadi penting untuk jalan ceritanya.

Storylinenya memang tergolong berat. Masih seputar intrik politik antara Korea Utara dan Korea Selatan, dimana si Raja terobsesi untuk menyatukan, atau minimal mendamaikan kedua negara tersebut dengan pernikahan adiknya. Tapi jangan khawatir, ceritanya masih bisa kita nikmatin. Walaupun bikin jidat mengkerut, tapi banyak scene yang bikin kita tersenyum. Alurnya juga berjalan dengan sangat apik. Dan episode 20 bener-bener jadi klimaks dari serial ini. 

Akting para pemainnya juga patut diacungin jempol. Semua pemainnya. Lee Seung Gi bener-bener bikin gua terpukau disini. Serial ini jadi the best performancenya dia. Karakternya emang agak sedikit mirip dengan dua serial terdahulunya. Episode-episode awal karakternya dibuat agak nyebelin. Saking nyebelinnya, pengen gua cubit tuh pipinya. Tapi si penulis naskah berhasil membuat karakter Lee Jae Ha ini dari pangeran manja yang nyebelin jadi raja yang berwibawa. Dan semuanya diperankan dengan sangat luar biasa oleh Lee Seung Gi. Uda ga ada lagi muka komikal yang biasa gua liat kalo dia lagi main drama. Di serial ini, Lee Seung Gi bener-bener total banget. Terutama saat dia harus menguras emosinya, keren abis. 

Untuk Ha Ji Won, tentu kemampuan aktingnya uda ga usa diragukan lagi. Penampilannya di setiap serial selalu memukau. Begitu pula di serial ini. Karakternya sedikit mirip dengan peran dia di Secret Garden. Cuma di sini dia lebih sedikit feminim. Mukanya jadi keliatan cantik banget, ga keliatan kalo dia uda umur 33. Cuma gua agak terganggu dengan aksen Korea Utaranya, jadi agak sedikit annoying. Tapi so far, Ha Ji Won mantap. Lee Seung Gi juga bisa mengimbangi kemampuan aktingnya. 

Chemistry mereka berdua pun dapet banget. Tadinya gua sempet ragu, tapi setelah nonton, gua ampe lupa ama Hyun Bin, hahaha. Ga keliatan kalo mereka berdua beda 8 taon. Keliatannya kayak Lee Seung Gi jauh lebih tua dari Ha Ji Won. Bahkan, chemistry Lee Seung Gi - Ha Ji Won jauh lebih dapet daripada Lee Seung Gi - Han Hyo Joo atau Lee Seung Gi - Shi Min Ah. Mungkin karena disini romantic scenenya lumayan banyak. Yang Gumiho juga banyak, tapi karena ceritanya fantasy gitu jadi berasa kurang real.

Tepuk tangan juga buat Lee Yon Ji. Aktingnya sebagai princess asli keren banget. Apalagi waktu scene dimana ingatannya mulai kembali, emosinya Lee Yon Ji dapet banget. Bener-bener total banget disitu. Tapi karakter yang paling menentukan di serial ini tentu si psikopat Kim Bong Goo. Apapun yang dia lakukan hampir menentukan kelanjutan ceritanya. Dan aktingnya si Yoon Je Moon jadi psikopat juga keren banget. Ampe gua pengen tabok-tabokin tuh mukanya. Bener-bener psikopat abis deh.

Setting kerajaannya juga bagus banget. Gua suka ngeliat gimana mereka menata istananya jadi berkelas dan mewah, ga kalah sama istananya Ratu Elizabeth. Tapi mungkin mereka terinspirasi sama Inggris, jadi kostum-kostumnya juga agak mirip-mirip sama Inggris. Bahkan Kim Hang Ah juga ikutan pake hiasan di kepalanya. Penggambaran mereka tentang Korea Utara juga keren banget. 

Ngomongin drama Korea tentu ga lengkap kalo ga ngebahas kissing scenenya, hahaha. Pas ngeliat behind the scenenya, kissingnya sih lumayan hot. Tapi entah kenapa pas uda diedit jadinya malah biasa. Lebih suka ngeliat versi behind the scenenya, Lee Seung Gi hot banget dah, hahaha. Tapi scene favorit gua kali ini bukan kissing scenenya, melainkan proposal scenenya. Gila, itu the best scene sepanjang gua nonton. Cewe manapun pasti bakal klepek-klepek kalo dilamar begitu, apalagi yang ngomong raja pula. Didukung dengan pemandangan yang paling bagus sepanjang serial itu, scene ini jadi memorable banget.

Soundtrack dan scoringnya juga bagus-bagus, ikut mendukung jalannya cerita. Terutama ketika sedang klimaks-klimaksnya, scoringnya bener-bener keren abis. Cuma yang lagu "Miss You Like Crazy" gua berasa bakal lebih keren lagi kalo Baek Ji Young yang nyanyiin. Tipe-tipe lagunya, mirip sama tipe lagu yang biasa dinyanyiin Baek Ji Young. Tapi lagunya enak, ngelotok banget di kepala.

Serial ini ibarat paket lengkap. Romantisnya ada, komedinya juga ada biarpun sedikit, actionnya juga ada. Waktu tayang di Korea kemaren, serial ini bersaing ketat dengan Rooftop Prince dari SBS. Buat gua, kedua serial ini punya keunikan sendiri-sendiri. Dari genrenya aja uda beda sih. Rooftop Prince lebih cerah, lebih ke arah komedi romantis. Sementara serial ini sedikit lebih gelap. Tapi untuk rating, Rooftop Prince yang menang. Buat yang suka serial dengan intrik politik, kekuasaan, serta action, serial ini bisa jadi alternatif pilihan. 

Btw, ikutan vote Lee Seung Gi dong di Mnet 20's Choice. Sekarang Lee Seung Gi masih memimpin sih, tapi bedanya tipis banget sama Kim Soo Hyun. Kayaknya, kalo ga nonton serial ini mungkin gua akan pilih Kim Soo Hyun. Ayo pada nge-vote ya. 

Pake baju begini jadi keliatan ganteng banget euy. 

  
Dari kedua serialnya yang dulu, Lee Seung Gi paling ganteng disini. Pake jas melulu jadi keliatan keren. Potongan rambutnya juga bikin dia makin berwibawa. Pangeran William kalah deh pokoknya.   

Ini proposal scene yang keren banget. Rajanya selain ganteng juga jago ngegombal, hahahaha.

Ini kissing scenenya. Buat gua sih, karena ngeditnya begitu, jadi biasa.

Coba bandingin sama versi behin the scenenya. Chemistry mereka berdua dapet banget. Hyun Bin terlupakan sejenak. Mianhe oppa.

Aktingnya Lee Seung Gi keren abis disini. Ekspresinya dan emosinya dapet banget.

19 June 2012

Tokio Kitchen

Halo semua. Gimana weekendnya? Belom telat kan nanya sekarang, hehehe. Gua dong hepi banget, soalnya Jerman lolos penyisihan grup. Belanda? Di world cup kemaren mereka boleh berjaya, tapi di euro nampaknya bukan keberuntungan mereka. Ya...bagi-bagi lah ama yang lain.

Btw, malam minggu kemaren gua ama nyokap ke Central Park. Biasa ya, itu mall tiap weekend pasti rame. Nyari parkir aja bisa abis setengah jam doang. Bahkan restoran juga rata-rata pada penuh semua. Restoran-restoran favorit banyak yang waiting list. Gua agak males sih kalo mau makan disuruh ngantri dulu. Kemaren gua kesana gara-gara mau nukerin voucher yang hampir abis masa berlakunya, sekalian nemenin nyokap yang mau cari sepatu.

Karena restoran-restoran di bawah rata-rata pada penuh semua, gua dan nyokap mutusin buat makan di Tokio Kitchen. Setau gua, Tokio Kitchen ga terlalu rame-rame amat. Tokio Kitchen ini semacam food court tapi dengan nuansa Jepang, hampir mirip sama Eat n Eat. Mulai dari interior sampai makanannya, semua berbau Jepang. Interiornya lumayan unik. Sebelum masuk kita dikasih kartu dulu. Kartu ini nantinya dijadiin alat pembayaran. Begitu mau keluar, kartunya dikasih ke kasir yang ada di dalem mobil bus, baru bayar disana. Fyi, pake BCA card disc 30% kalo ga salah.

Ini contoh kartunya. Lebih gede sedikit dari kartu Eat n Eat dan kita ga perlu top up segala, jadi ga gitu repot.

 Interiornya bener-bener Jepang abis, sampe bunga-bunga sakuranya juga ada.

Pilihan makanannya ga gitu banyak. Makanannya pun juga seputar sushi, udon, ramen, atau snack-snack Jepang kayak Takoyaki, Okonomiyaki, Onigiri. Karena porsi mereka lumayan banyak, jadi gua makannya share berdua nyokap. Dan ini makanan yang kita order.

Beef Katsu Curry
48.000 IDR
Sebelumnya dikasih tahu ama sepupu kalo Beef Katsu Curry-nya enak banget, jadilah gua pesen ini. Dan emang bener enak. Biasanya kalo ada nasi, porsi nasi sama daging ga seimbang, tapi yang ini porsi nasi sama dagingnya pas. Malah nasinya uda abis, dagingnya masih ada. Dagingnya juga empuk, ga terlalu keras. Di saosnya ada potongan-potongan kentang, enak banget. Worth it banget sama harganya.

Takoyaki
16.000 IDR
Yang ini lebih enak sih daripada yang gua beli kemaren. Buletannya gede-gede dan guritanya juga besar-besar. Cuma pas disajiin uda agak dingin. Takoyaki itu enak dimakan panas-panas.

Cold Ocha
8.000 IDR

Dulu gua juga pernah coba sushinya, lumayan enak. Okonomiyakinya agak kurang ya. Tapi so far sih lumayan enak, gua sih mau kalo disuruh balik lagi. Tempatnya juga enak buat nongkrong-nongkrong tanpa takut "diusir secara halus" 

Tokio Kitchen
Central Park Mall lt. 2
Telp (021) 29200028

15 June 2012

Takoyaki

Ada yang suka makan Takoyaki? Gua doyan banget sama snack Jepang yang satu ini. Penjelasan tentang Takoyaki bisa diliat di sini.

Pertama kali tahu Takoyaki dari komik Miiko. Di komik itu diceritain, tiap kali ada festival, si Miiko selalu jajan Takoyaki. Biarpun cuma di komik, tapi penggambaran si Miiko pas makan Takoyaki bikin gua ngiler, hahaha. Pertama kali juga makan Takoyaki di Emporium. Kebetulan di food courtnya ada stand yang jual Takoyaki. Langsung beli deh. Enaknya...

Takoyaki paling enak yang pernah gua makan tuh di........Singapore, hahaha. Lupa beli di daerah mana, yang jelas itu enak banget. Buletannya gede-gede dan guritanya juga besar-besar. Rata-rata yang dijual di Indonesia tuh guritnya kecil-kecil. Oiya, isinya juga bisa diganti dengan cheese, sosis, dll. Tapi gua tetep lebih suka yang isinya gurita. Aslinya emang begitu kan. Saosnya juga enak banget.

Kebetulan gua pernah beli voucher Takoyaki di disdus. Tadi pas ke Hero, Citraland, sekalian aja gua tukerin. Lupa harganya berapa, yang pasti dapet 3 box. 1 box isinya 4 biji. 
 
Gua suka kotaknya. Lucu banget. 

 
Rasanya lumayan. Tapi guritanya kecil banget, kayak ga niat ngasih gitu, hahahaha. Untung saosnya enak. 
PS : maaf ya kalo fotonya agak berantakan, dibawa pulang jadi bentuknya ga karuan, hahaha.

Oiya, Takoyaki ini paling enak dimakan panas-panas. Tadi gua bawa pulang Takoyakinya, trus baru dimakan 1 box. Sisa boxnya pikir buat dishare bareng nyokap. Pas nyokap pulang, Takoyakinya uda dingin, jadi kurang enak. Jadi pengen makan lagi, hahahaha.  

12 June 2012

Kitchenette, Calais, dan Omurice

Note : postingan ini akan penuh dengan foto-foto, hahahaha.

Tadinya postingan ini mau dibuat kepisah-pisah, tapi berhubung semalem gua tepar tergeletak di atas kasur, jadi digabungin jadi satu aja. 

1. Kitchenette.

Waktu kemaren nonton Snow White di blitz Central Park, gua ngeliat Kitchenette uda buka. Letaknya di atas kolam gitu. Sebelumnya uda sering denger nama restoran ini tapi belom pernah makan disana. Makanya pas kemaren buka di Central Park, langsung niat pengen nyoba.

Pas hari Minggu kemaren, gua dan si pacar jalan ke Central Park buat nonton Madagascar 3 (hasil bujuk rayu gua tentunya.) Kita nyampe blitz kira-kira jam 11 lewat, masih sepi, dan yang ngantri juga belom panjang. Beli tiket buat jam 13.00. Masih ada satu setengah jam, akhirnya mutusin buat makan di Kitchenette. Ternyata yang buka bukan cuma Kitchenette tapi juga Pizza e Birra. Mereka ada di bawah grupnya Ismaya. 

Kitchenette sendiri konsepnya kayak homemade kitchen gitu. Jadi pas masuk, nuansa-nuansa dapurnya uda berasa. Suka banget deh sama interiornya, sayang pas mau difoto ga boleh, hahahaha. Sekilas agak mirip-mirip sama Nanny's Pavillon tapi kayaknya masih lebih bagusan Kitchenette.

Ini penampakan buku menunya. Designnya sebenernya biasa, cuma idenya termasuk unik. Jadi menunya diprint terus ditempel di kardus bekas. 

Berikut ini menu-menu yang kita order.

Old Fashion Lemonade
28.000 IDR
Rasanya lumayan asem, tapi masih tergolong enak buat gua. Btw, itu bukan gelas, tapi kayak toples gitu. Lucu ya.

Frozen Chocolate
38.000 IDR
Ini juga lumayan enak. Cuma coklatnya lumayan manis. Tapi gua lebih suka coklat cair daripada difreeze.

Gusteau
59.000 IDR
Ini menu yang dipesan si pacar. Semacam galette. Penjelasan tentang galette bisa diliat di sini. Rasanya ga terlalu istimewa sih. Baconnya lumayan enak. Keripiknya juga enak.

Baked Truffle Macaroni & Cheese 
69.000 IDR
Pas pertama nyicip, kayak ga ada rasa gitu. Dicocol sambel baru berasa enak, hahaha. Indonesia banget yah. Tapi karena rasanya ga gitu kuat, jadi dimakan ampe selesai ga berasa eneg. 

Buat gua sih ga terlalu special banget, malah masih lebih enak Bakerzin. Harganya juga lumayan mahal. Untung servicenya lumayan bagus, ga kayak restoran Ismaya lain yang ada di TA, hahaha. Atau mungkin karena baru buka kali ya, servicenya masih bagus. 

Narcis dulu boleh ya, hehehehe.

Kitchenette
Central Park Mall
Tribeca Park
Telp (021) 292 00260
www.ismayagroup.com/kitchenette

***
2. Calais

Masih seputar bubble tea. Di Central Park dibuka baru saingannya Chatime. Kenapa saingan? Karena sama-sama dari Taiwan juga. 

Ngantrinya? Silakan liat sendiri. Beda-beda tipis ama Chatime. Berhubung penasaran, gua ikutan ngantri deh, hahaha. Jadi kan bisa bandingin sama rasanya Chatime.

 Menunya juga beda-beda tipis sama Chatime. Pilihan rasanya lumayan banyak.
 
 
 
Original Honey Milk Tea
21.000 IDR
Ini rasa yang gua order, katanya jadi unggulannya mereka. Sebenernya harga segitu dapetnya yang ukuran regular, tapi karena baru buka diupsize jadi ukuran large. Rasanya? Lumayanlah. Ga terlalu special-special banget. Bubblenya entah kenapa gua lebih suka Hop Hop punya. 

Feeling gua sih, ga lama lagi bakal buka counter serupa dan mungkin dari Taiwan juga, dengan antrian yang sama panjangnya. Indonesia kan banci trend, hahahaha.

Calais
Central Park Mall
LG #L-253

*** 
3. Omurice

Gara-gara Rooftop Prince, gua pengen banget masak omurice. Oke, ini emang agak lebay, tapi boleh dong, hahaha. Pas nanya ama temen yang kerjaannya emang chef, dia bilang gampangnya nasi goreng biasa dibungkus pake telor. Kebetulan pas gua pulang, nyokap lagi masak nasi goreng. Ide buat bikin omurice pun timbul, hahaha. Selesai nyokap masak, gua langsung bikin telor dadarnya. Dan inilah hasilnya. 

Jeng jeng, hahahaha. Ga kayak omurice ya. Namanya juga percobaan pertama, lain kali dicoba lagi lah.

***
Sekian postingan campur aduk dari saya.  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...