20 February 2018

Remember War Of The Son




 

Cast :

Yoo Seung Ho : Seo Jin Woo
Park Min Young : Lee In Ah
Park Sung Woong : Park Dong Ho
Nam Goong Min : Nam Gyu Man
Jung Hye Sung : Nam Yeo Kyung
Han Jin Hee : Nam Il Ho

Sinopsis :

Jin Woo has the condition of Hyperthymesia which allows him to remember almost every day in perfect detail. To prove the innocence of his father, Jin Woo becomes a lawyer. He struggles to prove his father's innocence, but he begins to lose his memory due to Alzheimer's.

Sinopsis diambil dari asianwiki.

Review :

Warning! Karena serial ini merupakan serial lama, jadi gua berasumsi uda pada banyak yang nonton, makanya gua akan masukin banyak spoiler disini. Buat yang belom nonton, mending jangan dibaca. Nonton dulu, baru baca, hahaha.

Seperti yang gua bilang, setelah I'm Not A Robot, gua masih belom bisa move on dari Yoo Seung Ho, makanya gua mulai ngubek-ngubek serial dia yang lama. Dan ketemulah sama serial yang judulnya Remember War Of The Son. Waktu gua baca reviewnya, rata-rata pada bilang bagus, jadilah gua nonton dengan ekspektasi yang cukup tinggi.

Dan serial ini beneran baguuuuuuussssss banget! Hahahaha. Ceritanya agak sedikit mirip kayak Defendant, cuma ini lebih kompleks, dan lebih ngenes. Ide ceritanya menarik banget, dan dieksekusi dengan sangat baik. Hampir tiap episode emosi gua kayak masakan, diaduk-aduk melulu. Mulai dari kesel banget ama yang jahat, ampe kasian banget sama pemeran utamanya. Tiap kali ngeliat Yoo Seung Ho lagi nangis, gua bawaannya pengen nyamperin sambil bilang, "De...sini noona peluk" Hiks...

Aktingnya Yoo Seung Ho jauh lebih bagus daripada di I'm Not A Robot. Mungkin juga karena scriptnya memberi banyak ruang buat dia untuk menunjukkan kemampuan aktingnya. Perubahan karakternya juga keliatan banget. Waktu jadi anak SMA, gua berasa dia emang kayak masih anak-anak. Tapi begitu uda jadi pengacara, bayang-bayang anak SMAnya hilang. Langsung berasa makin ganteng, hahaha. 

Untuk Park Min Young sendiri aktingnya lumayan bisa mengimbangi Yoo Seung Ho. Cuma di episode-episode awal, kehadiran dia antara penting dan ga penting. Ga penting karena kalo ga ada dia pun ga akan mengubah banyak jalan ceritanya. Tapi kalo ga ada dia, kasian Seo Jin Woo cuma sendirian. Gua malah baru tau Park Min Young itu jadi Lee In Ah setelah 4 tahun berlalu. Untungnya mulai pertengahan sampai ke akhir episode, perannya mulai penting, hahaha.

Karena ceritanya mirip-mirip kayak Defendant, jadi dari awal gua ga terlalu ngarepin ada adegan romancenya. Ternyata emang ada sih, tapi bukan memegang porsi utama di cerita. Romancenya cuma remah-remah doang, hahaha. Biarpun begitu, chemistry antara Yoo Seung Ho dan Park Min Young lumayan dapet loh. Apalagi waktu scene-scene mereka lagi berduaan, gua gregetan pengen bilang, "De de...ini noonanya jangan dianggurin. Dipeluk keq, tangannya digandeng keq, diapain lah gitu" hahahaha.

Selain mereka berdua, karakter yang jahat-jahat juga aktingnya bagus-bagus, terutama Nam Goong Min yang jadi Nam Gyu Man. Tiap dia nongol, bawaannya pengen berkata kasar melulu, hahaha. Waktu pertama kali liat Nam Goong Min, gua kayaknya pernah nonton dramanya yang lain. Ternyata dia pernah jadi psikopat juga di Sensory Couple.

Untuk endingnya, karena banyak yang bilang endingnya kurang bagus, jadi gua uda mempersiapkan diri. Sebenernya ending dari keseluruhan cerita sih bagus, sesuai dengan apa yang gua mau, cuma yang kesel tuh ending antara Seo Jin Woo dan Lee In Ah. Gua tau Seo Jin Woo pada akhirnya akan melupakan Lee In Ah, tapi ya mbok jangan ditinggalin begitu aja. Itu namanya habis manis sepah dibuang. Uda dibantuin, abis itu ditinggalin. Duh! Maaf emosi, hahaha.

Nonton serial ini jadi mengingatkan gua kalo mereka-mereka yang punya uang dan kekuasaan, akan dengan mudah membeli hukum dan mengorbankan orang-orang yang ga bersalah. Untungnya di drama masih ada orang-orang yang memiliki hati untuk membela kebenaran. Serial ini recommended banget. Walaupun ceritanya agak berat, tapi dijamin nontonnya ga akan bosen.

Next...enaknya nonton apa ya? Hwayugi uda tamat belom ya? Atau ada serial lain yang ceritanya bagus dan pemainnya ganteng? Hahahaha.

Senyumnya lebih banyak di I'm Not A Robot, tapi lebih ganteng disini, hahaha.

Setelah 18 episode, akhirnya ada juga adegan ini.

19 February 2018

Musikal Petualangan Sherina

Sebenernya gua mau cerita tentang imlek kemaren, tapi ada satu postingan yang ternyata jauh lebih penting buat gua ketimbang imlek, hahaha. Jadi postingan imleknya setelah ini ya.

18 tahun lalu, disaat film Indonesia lagi ngenes-ngenesnya, ada satu film anak-anak yang booming banget. Yup! Petualangan Sherina! Mira Lesmana sebagai produser, dan Riri Riza sebagai sutradara, membuat film Petualangan Sherina sebagai tanda bangkitnya kembali film Indonesia. Selain jalan cerita yang mudah dicerna, lagu-lagu yang dinyanyikan Sherina juga membuat film tersebut patut banget ditonton, terutama oleh orangtua dan anak-anak. Dulu gua punya kaset soundtrack filmnya, dan sering banget diputer di kamar.

Beberapa bulan lalu, si suami info kalo Petualangan Sherina mau dibuat drama musikalnya, dan dia ngajakin nonton. Pada dasarnya gua ga terlalu suka dengan teater-teater gitu, tapi Petualangan Sherina ini kayaknya ga bisa dilewatkan begitu aja. Sebagai orang yang pernah nonton filmnya di bioskop, gua langsung mengiyakan ajakan si suami. Kebetulan waktu dia info itu harga tiketnya masih early bird, jadi masih lumayan murah, yaitu IDR 149.000. Kalo setelah early bird, mereka jual dengan harga IDR 299.000. Itu uda yang paling murah loh, hahaha.

Pertunjukannya sendiri digelar dari tanggal 16-18 Februari, dan kami nonton kemaren, di tanggal 18 Februari. Acaranya mulai jam 7 malam, tapi kami uda nyampe di TIM dari jam 6 sore. Si suami bilang, kalo datengnya mepet-mepet akan macet dan susah cari parkir. Begitu nyampe langsung ke loket buat nuker tiketnya. 

Kelas Foxtrot, yang tempat duduknya paling atas. Jauh banget dari pandangan mata, hahaha.

Tadinya gua pikir akan nonton di Graha Bakti Budaya, tempat biasa gua nonton teater, tapi ternyata mereka main di Teater Jakarta, gedung yang lebih gede. Ini pertama kalinya gua nonton disini, dan langsung norak, hahaha. Gua malah baru tau loh ada gedung pertunjukan yang modelnya kayak gini di Jakarta, hahaha.

Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki.

Bagus ya.

Ngedate berdua dulu, hahaha.

Wajib meninggalkan jejak disini.

Sekitar jam 6.15 pintunya dibuka dan kami diperbolehkan masuk, tapi belom bisa masuk ke gedung pertunjukannya. Sebelum masuk, tas-tas diperiksa dulu. Jadi ga boleh bawa makanan dan minuman. Tapi di dalem jual makanan dan minuman sih, cuma harganya tentu menyesuaikan.

Antri masuk.

Difotoin crewnya. Not bad lah ya, hahaha.

Tau ga ini artis siapa? Mukanya 11-12 lah ya ama gua, hahaha.

Antri masuk ke gedung pertunjukan. Tasnya diperiksa lagi. Yang bawa makanan dan minuman harus dititipin dulu.

Begitu masuk, lagi-lagi gua norak, hahaha. Ruangannya asli gede banget. Tempat duduk kami di balkon paling atas, tapi di paling depan, jadi bisa majuin badan biar lebih keliatan. Walaupun ga sejajar sama mata, tapi masih terjangkau mata lah, hahaha.

Gua nontonnya dari sini. Keliatan sih, tapi kecil banget.

Tiketnya sold out, jadi penuh banget.

Pertunjukannya sendiri baguuuuuuusssss banget. Ada beberapa scene di film yang ga ada disini, dan ada pengembangan karakter, tapi inti ceritanya sama kayak di film. Lagu-lagunya juga sama semua kayak di film, plus ada beberapa lagu baru. Aransemen musiknya juga keren banget. Nonton ini jadi kayak membawa gua kembali ke masa kecil. Nostalgianya berasa banget.

Dan gua salut banget sama semua pemerannya, terutama anak-anaknya. Suara mereka bagus-bagus, terutama yang jadi Sherina, suaranya bisa mirip banget ama Sherina aslinya. Emang kalo anak-anak, ada beberapa lafal yang kurang jelas, tapi buat gua, mereka bisa tampil di panggung sebesar itu aja uda hebat banget. Selain itu emang ada minus-minus dikit sih, tapi semuanya ketutup sama keseluruhan show yang bikin gua tepuk tangan berkali-kali. Walaupun harga tiketnya ga bisa dibilang murah buat gua, tapi worth it banget. Gua ga nyesel sama sekali.

Curtain call. Plus ada Mira Lesmana, Riri Riza, dan tentu Sherinanya sendiri.

Gua uda dua kali nonton teater yang pemainnya anak-anak, dan langsung keingetan Jayden. Gua pengen kalo Jayden uda sekolah, dia bisa ikut komunitas yang model kayak gini. Ga harus teater sih, bisa apa aja, yang penting positif. Gua mau dia punya komunitas lain selain sekolah dan gereja. Jadi dia punya hal lain yang dia kejar selain bidang akademis. Jaman sekarang anak ga bisa ngandelin sekolah doang, harus punya skill lain yang bisa dia banggakan.

13 February 2018

Flying Pig

Daging babi merupakan salah satu daging favorit gua. Mau dimasak dalam bentuk apapun, uda pasti gua ga akan nolak. Dulu ga banyak restoran yang menjual masakan babi, paling cuma di restoran chinese. Tapi sekarang....walaupun jumlahnya ga bisa dibilang banyak, tapi ada alternatif restoran lain yang menjual masakan babi selain restoran chinese.

Hari Minggu kemaren, gua dan suami dinner bareng temen-temen gereja di Flying Pig yang terletak di daerah Sunter. Karena bukan anak Sunter, jadi gua ga tau persis Sunternya di sebelah mana, hahaha. Tapi kayaknya ga jauh dari Hermina deh. Dari namanya, kita pasti uda tau kalo Flying Pig ini menyajikan menu seputar babi. Dari kapan tau gua uda penasaran banget pengen makan disini, akhirnya kesampean juga, hahaha.

Tempatnya sendiri lumayan gede, ada area indoor dan outdoor. Area indoornya ber-AC, cuma ga terlalu luas, sementara area outdoornya gede banget. Sebenernya area outdoor itu untuk yang merokok, tapi karena kemaren ga terlalu rame, jadi kami memilih duduk di area outdoor. Suasana outdoornya emang enak banget sih, remang-remang romantis, jadi berasa kayak di Bali, hahaha.

Area outdoornya. Gua suka sama interior outdoornya.

Remang-remang romantis kan? Hahaha.

Jadi berasa kayak di Bali.

Gambar-gambar yang ada di tembok.

Buat yang bawa anak, ada mini playground juga. Sederhana sih, tapi kalo gua ajak Jayden, dia pasti suka.

Ini mejanya, bisa buat main-main.

Babinya ucul sekali. Gemas.

Hampir 97% menunya itu seputar babi, mulai dari nasi campu babi, iga babi, sate babi, burger dengan isian bacon, sampai sayur mayur dengan daging babi. Cukup bervariatif sih, cuma kalo gua ajak si suster, uda pasti dia ga akan bisa makan apapun.

Tampak depan buku menunya.

Tampak belakang.

Hampir semua menu ada fotonya. Gua suka yang kayak gini, memudahkan gua waktu mau order.

Dan inilah babi-babi yang dengan gragas masuk ke dalam perut kami. 

Ambon Plate
IDR 43.000
Ini semacam nasi campur babi. Isinya nasi putih, sayur, babi kecap (kalo ga salah), dan babi asap. Ini pesenan temen gua, tapi gua ikut nyicip daging babinya. Dagingnya cukup empuk, dan rasanya juga lumayan enak.

Babi Rempah
IDR 50.000
Ini semacam babi goreng dengan aneka rempah seperti kunyit yang juga ikut digoreng. Rasanya enak banget. Dagingnya tebel-tebel dan garing banget. Rempah-rempahnya juga enak buat dicemilin.

Sate Sancam Kecap
IDR 40.000
Menu sancam mah ga pernah salah, uda pasti selalu enak, hahaha.

Sate Daging Kecap
IDR 40.000
Daging satenya empuk, dan rasanya juga cukup enak. Selain bumbu kecap, ada pilihan bumbu lain seperti plecing dan kacang. Tapi buat gua belom ada yang ngalahin Sate Babi Bawah Pohon.

BBQ Spare Ribs
IDR 100.000
Dagingnya tebel, dan rasanya lumayan enak. Cuma bumbunya agak kemanisan dikit. Kalo dibandingin Wahaha, gua masih lebih suka Wahaha. Cuma kan Wahaha jauh ya, hahaha.

Pork Knuckle
IDR 100.000
Ini dia juaranya! Dagingnya tebel banget, empuk, dan kulitnya itu loh....garing banget. Rasanya mah ga usah ditanya deh, maknyus banget. Sebenernya ini pork knuckle cabai garam, cuma karena ada yang ga kuat pedes, jadi dipisah. Selain itu ada juga pork knuckle cheese mozarella, carbonara, telor asin, dan original. Kalo kesini lagi gua pasti akan order ini lagi, hahaha.

Sambal matahnya juga juara.

Ice Tea
IDR 7.000

Heineken
IDR 28.000
Apalah artinya makan babi tanpa minum beginian, hahaha.

Gua puas banget makan disini. Makanannya enak-enak, harganya juga masih termasuk oke, porsinya sesuai, dan suasananya juga enak banget. Sayang nih Sunter jauh dari rumah gua, kalo deket pasti gua akan sering-sering ngedate sama suami disini, hahaha. Buat yang bingung pas valentine mau dinner dimana, Flying Pig bisa jadi alternatif pilihan. Terus duduknya di area outdoor biar berasa romantis, hahaha.

Flying Pig
Jl. Danau Agung Tengah 4 No. 6 RT 10 / RW 14
Sunter Agung, Jakarta Utara 14350
Telp 021-6400488

11 February 2018

Sama Alaynya

Gua punya murid yang sekolahnya kelas 1 SMA. Kalo lagi les, selain bahas materi piano, kami juga suka ngomongin hal lain yang receh banget. Contohnya kayak kemaren...

Murid : "Miss....uda nonton Dilan belom?"
Gua : "Uda. Kamu uda belom?"
Murid : "Uda miss. Aku suka banget sama filmnya, apalagi yang jadi Dilan, aduh itu ganteng banget miss."
Gua : "Iyaaaa...miss juga suka sama yang jadi Dilan. Asli itu ganteng banget. Apalagi tatapan matanya, menusuk banget."
Murid : "Bener miss! Gombalannya juga bikin aku senyum-senyum sendiri selama nonton. Jadi pengen punya pacar deh."
Gua : "Emang gombalannya juara banget deh."
Murid : "Aku nanti mau nonton lagi sama temen-temen, uda ga sabar pengen liat Dilan."

Ketika guru dan murid sama alaynya, itulah obrolan yang terjadi. Abis gimana dong, susah sih move on dari Dilan, hahahaha.

07 February 2018

I'm Not A Robot



 
Cast :

Yoo Seung Ho : Kim Min Kyu
Chae Soo Bin : Jo Ji A / Aji 3
Uhm Ki Joon : Hong Baek Gyun
Park Se Wan : Pi
Song Jae Ryong : Hoktal
Kim Min Kyu : Ssanip

Sinopsis :

Min Kyu is the largest shareholder of a finance company. He is handsome and intelligent, but he lives in seclusion due to his allergy of people. Meanwhile, Ji A is an aspiring entrepreneur and works as a personal shopper. She receives a phone call from her ex-boyfriend Baek Gyun. Her ex-boyfriend is a world renown developer of android robots. His latest creation is the android Aji 3, which he built with the same physical appearance as Ji A, but an accident has broken Aji 3. Making matters worse, he has received an order for Aji 3 from Min Kyu with the promise of more investment money if he's satisfied. Being in such a predicament, Baek Gyun offers money to Ji A if she will go to Min Kyu's home and pretend to be Aji 3. Ji A is in need of money and accepts the offer.

Sinopsis diambil dari asianwiki.

Review :

Di saat drama Korea lagi gersang gara-gara yang ganteng-ganteng lagi pada wamil semua, akhirnya gua ketemu kecengan baru yang manis banget. Namanya Yoo Seung Ho, hahaha. Gua inget cuma pernah sekali nonton dramanya dia yang judulnya Missing You, bareng sama Yoon Eun Hye dan Park Yoochun. Cuma karena disana dia jadi orang jahat, jadi kegantengannya ga terlalu nempel di gua. Tadinya gua juga ga terlalu tertarik nonton serial ini, tapi karena di grup ibu-ibu pecinta drama Korea (iya...gua punya group sesama ibu-ibu yang khusus ngebahas drama dan cowo-cowo Korea, hahaha) rame dibahas, jadi sedikit tertarik. Makin tertarik lagi waktu Naomi review di blognya, hahaha.

Ide ceritanya sebenernya menarik sih, tentang cewe yang berpura-pura jadi robot, dan cowo yang menganggap si cewe itu adalah robot. Masalahnya...alurnya bertele-tele banget. Gua nungguin ini kapan ketauannya, koq lama banget. Serius ini kalo bukan karena Yoo Seung Ho sih gua uda pasti say goodbye deh, hahaha. Tapi setelah ketauan, alurnya mulai ngangkat dan mulai menarik. Cuma gua ga puas! Gua pengen lebih lama ngeliat kemesraan antara Kim Min Hyun dan Jo Ji A, bukan Kim Min Hyun dan Aji 3.

Aktingnya Yoo Seung Ho sendiri lumayan bagus. Dia bisa bermain emosi dengan baik. Apalagi kalo lagi scene nangis, hati gua jadi ikut pedih, hahaha. Plus muka gantengnya itu loh, ya ampun...bikin meleleh banget! Chae Soo Bin juga aktingnya juga bagus, dia bisa dua karakter dengan baik. Tadinya gua pikir Jo Ji A dan Aji 3 tuh dua cewe yang berbeda loh, abis mukanya kayak ga sama sih. Eh...ternyata satu orang, hahaha. Gua lebih suka potongan rambut yang pendek sih, keliatan lebih "manusia" hahaha.

Dan....chemistry mereka berdua dong, bikin gua baper berkepanjangan. Asli dapet banget! Tiap kali ada scene mereka lagi berdua, gua jadi ikut senyum-senyum sendiri. Uda gitu chemistry off screennya juga dapet banget. Apalagi waktu adegan mereka ciuman di dapur, gua ngeliatnya ikut berdebar-debar, hahaha. Gua ampe berharap mereka pacaran beneran loh di kehidupan nyata, hahaha. Selain itu soundtracknya juga nyatu banget sama ceritanya. Gua cuma denger lagunya aja uda baper, hahaha.

Di Korea sendiri ratingnya ancur sih, mungkin karena scriptnya lemah kali ya. Tapi sekali lagi...karena efek Yoo Seung Ho, jadi semua yang kurang-kurang bisa dimaafkan, hahaha. Setelah ini gua jadi pengen nonton serialnya dia yang lain. Ada yang uda nonton Remember War Of The Son? Baguskah?

Aigoooo~~~~~manisnya. 

Ini adegan yang paling menyayat hati. Hiks...

05 February 2018

Dilan 1990




 

Cast :

Iqbaal Ramadhan : Dilan
Vanesha Prescilla : Milea

Sinopsis :

Milea bertemu dengan Dilan di sebuah SMA di Bandung. Itu adalah tahun 1990, saat Milea pindah dari Jakarta ke Bandung. Perkenalan yang tidak biasa kemudian membawa Milea mulai mengenal keunikan Dilan lebih jauh. Dilan yang pintar, baik hati, dan romantis, semua dengan caranya sendiri. Cara Dilan mendekati Milea tidak sama dengan teman-teman lelakinya yang lain, bahkan Beni, pacar Milea di Jakarta. Bahkan cara berbicara Dilan yang terdengar kaku, lambat laun justru membuat Milea kerap merindukannya jika sehari saja ia tak mendengar suara itu.

Perjalanan hubungan mereka tak selalu mulus. Beni, gank motor, tawuran, Anhar, Kang Adi, semua mewarnai perjalanan itu. Dan Dilan dengan caranya sendiri selalu bisa membuat Milea percaya ia bisa tiba di tujuan dengan selamat. Tujuan dari perjalanan ini. Perjalanan mereka berdua. Katanya dunia SMA adalah dunia paling indah. Dunia Milea dan Dilan satu tingkat lebih indah daripada itu.

Sinopsis diambil dari cineplex.

Review :

Siapa disini yang abis nonton Dilan 1990 lalu keluar bioskop dengan sumringah? Saya! Hahaha. Padahal tadinya gua ga terlalu tertarik nonton film ini loh. Tapi karena hampir semua orang di linimasa gua membicarakan tentang Dilan, mau ga mau jadi penasaran juga. Dan begitu selesai nonton filmnya, gua langsung jatuh cinta sama dedek manis dan menggemaskan bernama Iqbaal. Hahahaha.

Ceritanya sendiri receh banget, hampir nyaris ga ada konflik, dan ga ada klimaksnya juga. Mungkin karena settingnya anak SMA ya, jadi ga ada masalah yang bisa digali lebih dalam. Karena masalah anak SMA pada umumnya ya seputar percintaan. Tapi bukan lantas film ini akan menjadi datar-datar saja tanpa konflik. Kekuatan terbesar film ini justru terletak pada pemilihan kata-kata yang diucapkan oleh tokoh Dilan. Ya ampun cheesy banget, tapi gua dengernya bisa senyum-senyum sendiri, hahaha. Padahal kalo di kehidupan nyata, digombalin kayak gitu uda pasti gua bakal eneg sendiri. Tapi koq ya di film ini jatohnya malah manis banget.

Dan tokoh Dilan sendiri diperankan dengan apik banget oleh Iqbaal Ramadhan. Dia ga terlalu banyak bermain emosi, tapi tatapan matanya itu loh....menusuk relung jiwa banget, hahaha. Pokoknya tiap Dilan lagi ngegombal dengan tatapan yang menusuk, gua sebagai penonton ikut meleleh dengernya, hahaha. Chemistrynya dengan Vanesha juga dapet banget. Aktingnya Vanesha sendiri awalnya agak kaku, tapi lama-lama mulai bisa mengimbangi akting Iqbaal yang emang uda oke dari awal.

Setting tahun 90nya juga detail banget. Mulai dari telepon rumah, telepon umum, baju-bajunya, bahkan sampai poster yang nempel di dinding. Jadi inget gua dulu juga suka nempelin poster boyband favorit di dinding kamar, hahaha. Scene favorit gua waktu Milea naik motor pertama kali sama Dilan, soalnya jadi inget waktu gua naik motor pertama kali sama si mantan pacar, alias si suami. Meluknya tuh antara malu-malu tapi mau, hahaha. Dulu tuh tiap motoran rasanya bahagia banget karena bisa meluk-meluk dari belakang.

Di samping kelebihan-kelebihan yang gua sebutkan tadi, ada beberapa kekurangan di film ini. Salah satunya adalah pemilihan lagu yang kayak kurang ngeblend sama adegannya. Lalu ada beberapa adegan yang menurut gua ga perlu. Ga ada pun ga akan mengubah banyak cerita. Uda gitu ada scene-scene yang eksekusinya kurang bagus, seperti waktu Milea dianterin pulang sama mamanya Dilan. Tapi itu minor sih, karena orang ga akan terlalu peduli sama kekurangan-kekurangan yang gua sebutin di atas.

Harus gua akui kalo film Dilan 1990 ini merupakan salah satu film Indonesia yang menarik banget untuk ditonton. Terbukti kan hampir semua orang yang uda nonton pada baper gara-gara Dilan dan Milea. Buat yang belom nonton, gua merekomendasikan banget film ini. Kenapa? Biar kalian tahu kalo nahan rindu itu berat. Hahahaha.

Aduh dek...tante baper banget ngeliat kalian berdua, hahahaha.

Dhuaaaarrrr! Kalian masih SMA, jelas ga akan kuat nahan rindu. Nanti seiring bertambahnya usia, kalian pasti lebih ga akan kuat kalo ngeliat kartu kredit, hahaha.

02 February 2018

Ulang Tahun Bokap

Hari Minggu kemaren, bokap gua ngerayain ulang tahun yang ke 61. Pas banget hari itu Holland Bakery juga lagi ulang tahun, dan mereka ada diskon 40% untuk semua produk. Tadinya gua mikir lumayan nih beli kue ulang tahun disana, harusnya yang banyak diserbu kan roti-rotinya ya. 

Tapi....ternyata gua salah! Hahahaha. Kemaren mampir ke empat cabang Holland Bakery, semua kuenya ludes. Yang terakhir malah gua ga masuk sama sekali, ngeliat antri ampe keluar aja uda ga nafsu buat beli. Akhirnya gua beli di Dapur Cokelat, yang walaupun lebih mahal, tapi uda ketauan rasanya enak, hahaha.

Malamnya kami makan-makan di salah satu restoran favorit kami, yaitu Warung 1945. Gua pernah review restorannya, bisa dibaca di sini. Kemaren makan-makan sekalian ajak ii gua dan keluarganya juga. 

Kali ini gua ga banyak cerita, langsung ke foto-fotonya aja ya. Soalnya ga banyak juga yang mau diceritain, cuma ditulis biar ada kenangannya aja, hahahaha.

Kemaren ceritanya kasih surprise.

Grandpa dan grannynya Jayden.

Foto bertiga.

Full team. Foto tiga generasi.

Cucunya yang paling semangat tiup lilin. Mulutnya ampe monyong banget, hahaha.

Dan ini makanan yang kami makan kemaren. Karena sebelumnya uda pernah gua tulis di blog, kali ini cuma foto-fotonya aja ya, hahaha.

Tahu telor. Ini menu favoritnya bokap.

Spaghetti Carbonara. Harusnya ini diorder supaya bisa sharing sama Jayden, tapi sepertinya dia ga terlalu suka. Mungkin karena terlalu creamy kali ya. Padahal enak loh.

Kalo liat ini, jadi inget dulu oma gua sering masak makanan ini. Dan jadi salah satu makanan favorit gua.

Ini side dishnya harusnya pake mashed potato, tapi karena abis jadi diganti french fries. Bagus juga sih, jadi Jayden bisa ngemil kentang goreng, hahaha.

Ini juga salah satu menu favorit. Bahkan Jayden pun doyan. Emang dasar anak Indonesia, hahaha.

Ini pesenan si suami. Porsinya cuma seuprit sih. Tapi karena katanya dia lagi mengurangi makan malam, jadi masih oke lah, hahaha.

Ini sup asam daging sapi pesenan gua. Rasanya maknyus sekali. So far ini the best menunya mereka.

Makan di restoran ini selalu puas. Karyawan dan ownernya juga ramah-ramah. Terakhir gua mau ngucapin....

Happy birthday papi!
Semoga sehat selalu ya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...