03 October 2012

Perahu Kertas 2




Cast :

Maudy Ayunda : Kugy
Adipati Dolken : Keenan
Reza Rahardian : Remi
Elyzia Mulachela : Luhde

Sinopsis :

Keenan sudah memutuskan kembali tinggal di Jakarta dan melanjutkan bisnis keluarga akibat serangan stroke yang diderita ayahnya, Adri. Keenan menjalani hubungan kasih jarak jauh dengan Luhde yang tinggal di Bali. Sedangkan Kugy telah menjadi dekat dengan Remi, yang juga menjadi atasannya di biro iklan AdVocaDo.

Keenan mengambalikan buku Jenderal Pilik kepada Kugy. Buku tulisan tangan Kugy inilah yang telah menjadi sumber ilham lukisan-lukisannya. Tak hanya itu, pertemuan kembali Keenan dan Kugy memunculkan kembali ide mereka berdua : Kugy menulis cerita anak dan Keenan membuatkan ilustrasinya. Akibatnya, prestasi kerja Kugy merosot drastis, sehingga menjadi alasan bagi Siska untuk mengkritik kedekatan Kugy dan Remi.

Remi memberinya cincin untuk membuktikan keseriusannya. Sepulang dari Bali, Kugy mencoba untuk menghindar dari Keenan dan Remi, menenangkan diri ke rumah Karel, kakaknya. Keenan yang merasa kehilangan pun mencari Kugy. Lewat Noni, Keenan mengetahui bahwa dulu Kugy menjauhkan diri dari Keenan, dan juga Noni serta Eko, adalah karena sebenarnya Kugy mencintai Keenan, tetapi terhalang oleh kedekatan Keenan dan Wanda. Keenan memutuskan untuk menemui Kugy untuk menuntaskan perasaan-perasaan terpendam mereka. Tetapi, peristiwa demi peristiwa kemudian menjalin, mempertemukan, dan memisahkan hati, silih berganti antara Kugy, Keenan, Remi, Luhde, dan juga Siska beserta orang-orang lain di sekeliling mereka. Bahkan juga membuka bagaimana hubungan Pak Wayan dan keduan orang tua Keenan, Lena dan Adri.

Sinopsis diambil dari blitzmegaplex.

Review :

Ini beneran review Perahu Kertas 2 loh, huahahaha. Sebelumnya, buat para penggemar Perahu Kertas, sori ya...gua dan si ndud nonton duluan. Kebetulan beberapa waktu lalu, gua ikut kuis yang diadain Frank&Co dan hadiahnya tiket nonton Perahu Kertas 2 gratis di blitz GI, dapet snack dan minum pula. Ngomongin soal kuis, gua lumayan sering ikut kuis yang hadiahnya tiket nonton, dan lumayan sering menang juga. Ga cuma kuis ini sih, kuis yang hadiahnya duit juga gua sering ikut, cuma koq menangnya di tiket nonton mulu ya, hahaha. Gpplah, di masa-masa sekarang ini, sesuatu berbau gratisan itu menyenangkan banget.

Lalu filmnya gimana? Seri dua ini lebih ke arah konflik permasalahannya, lebih kompleks, dan lebih dalem. Kalo biasa cinta segiempat, ini uda bersegi-segi dah. Gua pribadi lebih suka seri kedua ini daripada seri satunya. Mungkin karena di seri satu lebih banyak ke arah pengenalan tokoh dan asal mula konfliknya kali ya. Lagipula, di seri dua banyak adegan romantisnya. Dialog-dialog antar tokohnya juga tetep memukau. Dee emang keren abis.

Aktingnya Maudy Ayunda dan Adipati Dolken masih sama dengan seri satunya. Akting nangisnya Maudy Ayunda kayaknya kurang greget, jadinya gua ga berasa ikut sedih. Mungkin gua kebanyakan nonton Korea kali ya, hehehe. Padahal di seri dua ini scene nangisnya dia banyak banget. Sementara Adipati, ekspresinya agak kurang. Ada banyak scene yang menuntut dia banyak berekspresi, tapi jadinya datar banget. Untung chemistry antara Maudy dan Adipati lumayan dapet, cukup nolong sih. Dan paling bagus tetep aktingnya Reza Rahardian. Doi keren banget. Ekspresinya dapet semua.

Di seri kedua ini banyak banget setting pantainya. Gua suka ngeliat scene antara Kugy dan Keenan waktu mereka main-main di pantai. Chemistrynya disitu dapet banget. Gambarnya juga bagus banget. Tapi scene yang paling gua suka tuh waktu Kugy dilamar sama Remi di pinggir pantai. Mwaaaaa! Gua mau banget ituh, hahahaha! Bayangin ya, lu dilamar dengan backsound suara ombak, romantis banget ceu. Sayang, Kugy diputusin juga di pinggir pantai, hahahaha. 

Tapi yang paling gua sayangin tuh endingnya. Padahal dari awal film, alurnya uda bagus. Perpindahannya lumayan cepet tapi ga mengurangi esensi cerita. Eh, endingnya bikin jatoh. Sebenernya ga jelek-jelek amat sih, tapi gua mengharapkan ending yang lebih dari itu. Untung pengambilan gambar endingnya itu lumayan bagus, jadi lumayan nolong.

Untuk scoring dan soundtrack, masih sama bagusnya dengan seri satu. Apalagi scoringnya, nemplok banget di otak. Ampe sekarang masih terngiang-ngiang nih. Dan salah satu soundtracknya uda dimasukin ke list untuk wedding song kita nanti, hehehe. Eh, ada satu lagu yang dinyanyiin Rida Sita Dewi loh. Mereka reunian lagi. Gua jadi pengen beli CDnya nih.

Overall, gua puas banget nonton seri kedua ini (gratis sih ya, hahaha). Untuk ukuran film Indonesia, Perahu Kertas worth it banget untuk ditonton. Sebaiknya sih sebelum nonton seri duanya nonton dulu seri satunya. Dan kalo uda nonton seri satunya, wajib nonton seri duanya. 

Oiya, selain dapet snack, kita juga dapet kesempatan foto bareng sama pemainnya loh, hehehe. Aslinya tetep pada cakep-cakep. Apalagi Adipati, rambutnya uda pendek, gua lebih suka. Emang dasar ga suka cowo gondrong sih.

Castnya yang nongol cuma ini. Yang di tengah itu staffnya Frank & Co kayaknya. Adipati lebih cakep ya rambut pendek gitu.

01 October 2012

Goodbye Grandpa

Hari Rabu kemaren, saya dibangunin sama bokap sekitar jam 4 pagi. Ketika masih lelap-lelapnya tidur, bokap tiba-tiba bilang "Mel, opa uda ga ada" dan seketika itu juga saya langsung shock. Gimana ga shock coba, opa yang sehari-hari tidur di sebelah kamar saya, tiba-tiba meninggal tanpa ada tanda apapun. Gimana ga shock coba, opa yang tiap malam selalu saya sapa, tiba-tiba pergi begitu aja. Spontan saya langsung bangun dari tempat tidur dan menuju ke kamar sebelah. Begitu saya liat, mukanya memang uda sedikit pucat, tapi badannya masih hangat. Sepertinya beliau belum lama meninggal. Dan pikiran saya langsung melayang tentang banyak hal yang saya ingat mengenai opa.

Opa selalu ngajarin saya belajar ketika saya masih SD. Pada saat itu, opa masih bekerja di Pertamina. Dan tiap kali saya pulang sekolah, opa selalu telpon ke rumah hanya untuk menanyakan "besok ada PR apa?" atau "tadi ulangannya bisa ga?" 

Waktu SD, opa selalu anter jemput saya untuk pergi les. Semuanya dilakukan ketika dia mulai pensiun. Ketika itu, kegiatannya tidak terlalu banyak, dan kondisi kesehatannya masih bagus untuk nyetir mobil kesana kemari. Kadang, abis pulang les, opa selalu ngajak saya makan di KFC, makanan favorit saya dan beliau.

KFC memang jadi makanan favorit beliau. Saking demennya sama KFC, waktu malam tahun baru, kami sekeluarga ingin mengajak dia makan buffet all you can eat, tapi dia tetep ingin makan KFC. Selain itu opa juga suka minum coca cola. Beliau suka beli coca cola dalam jumlah banyak lalu ditaro di kamar untuk persediaan.

Opa memang orang yang keras, tapi di balik sifatnya yang keras, dia sayang sama kami semua, terutama saya, cucu pertamanya. Waktu kecil, ketika mami papi saya marahin saya, opa selalu membela saya. 

Opa juga selalu menceritakan pengalamannya ketika keluar negeri pada saat makan malam. Karena kerjaannya sebagai auditor, otomatis beliau sering berpergian kesana kemari. Saking seringnya cerita itu diulang-ulang, saya sampe hafal beliau pernah ke Amerika, Kanada, Belanda, Jepang, dan beliau sangat bangga tentang hal itu.

Kondisi opa mulai menurun jauh sejak beliau melakukan operasi mata lima belas tahun yang lalu. Beliau berubah dari orang yang melakukan semuanya sendiri jadi orang yang harus dibantu. Walaupun begitu, kondisi kesehatannya tetap membaik. Bahkan ketika beberapa teman oma datang beberapa waktu lalu, mereka bilang muka opa lebih seger.

Kami sekeluarga pernah ngajak opa ke Bandung. Ketika sedang makan di salah satu restoran Sunda, tiba-tiba dia hilang! Waktu itu kondisinya memang mulai menurun, tapi dia masih bisa jalan sendiri. Ketika pamit ke toilet, lama kami tungguin, opa ga balik-balik. Untungnya ga lama kemudian si opa ketemu juga.

Setelah kondisinya menurun, opa sering banget jatoh. Tapi biarpun uda jatoh berkali-kali, kakinya opa tetep kuat. Buat jalan pun juga masih kuat walaupun harus dituntun. Banyak yang bilang, karena dulunya opa suka main badminton. Opa memang suka banget main badminton. Ketika pensiun, hampir tiap pagi opa selalu pergi ke lapangan untuk main badminton.

Istrinya sudah meninggalkan dia lebih dulu 6 tahun yang lalu. Kami sekeluarga sepakat untuk tidak memberi tahu hal ini kepada beliau, bahkan sampai akhir hidupnya. Tapi saya yakin, opa pasti merasakan kehilangan istrinya, hanya saja beliau tidak bisa menyampaikannya. 

5 hari sudah opa pergi meninggalkan saya dan keluarga. Saya pribadi tentu amat sangat kehilangan beliau, mengingat saya udah tinggal dengan opa selama 26 tahun. Yup! Saya tinggal dengan opa dari bayi.

Tapi, saya bersyukur....

Di hari ulang tahunnya yang terakhir, saya masih bisa memberikan kado untuk beliau. Tidak seberapa memang, tapi buat saya, kado terakhir itu ternyata sangat berarti.

Saya bersyukur...

Masih sempat nyuapin opa untuk terakhir kalinya ketika lebaran kemaren. Mungkin kedengarannya biasa, tapi buat saya, suapan terakhir itu ternyata sangat berarti.

Saya bersyukur...

Biarpun opa tidak sempat melihat saya menikah, tapi beliau sempat melihat saya dilamar. Walaupun hanya lamaran, tapi setidaknya, saya sempat meminta restu opa ketika beliau masih hidup.

Dan saya bersyukur...

Opa udah ketemu sama istrinya di surga sana. Mereka berdua pasti bahagia di sana.

Selamat jalan opa. Terima kasih untuk semua yang telah opa lakukan untuk saya. Dan terima kasih juga, beberapa bulan belakangan ini, opa bisa ingat nama saya. Melissa sayang banget sama opa. 

26 September 2012

Rice Bowl

Hari Minggu kemaren kebetulan gua ada kerjaan di sekitar daerah Pondok Indah, jadi mampirlah gua dan keluarga ke Gandaria City. Sejak ada Gandaria City, kita jadi jarang ke Pondok Indah Mall. Sebenernya sih kalo mau diliat-liat, Gandaria City tuh ga jauh beda sama Central Park atau Senayan City, cuma tipe pengunjungnya aja yang beda. Dan di Gandaria City, lumayan sering dikunjungin orang Korea. Festival-festival yang berbau Korea juga sering diadain disana.

Karena kita kesana pas jam makan siang, jadi mampir (makan koq mampir) ke restoran dulu buat lunch. Rice Bowl ini dulu merupakan restoran favorit gua dan si ndud, karena ada menu paket buat berdua. Selain porsinya banyak, harganya juga ga mahal-mahal amat. Cuma sejak paketnya ga ada, kita jadi jarang makan disana, hahaha. Pas kebetulan kemaren lagi males naik-naik ke atas, jadi cari-cari makan di deket-deket lotte mart. Setelah nyari-nyari, diputuskanlah makan di Rice Bowl ini. 

Interiornya sih mirip-mirip kayak warna buku menunya, sekitar hitam, merah, dan ada kuningnya dikit. Bukunya juga lumayan banyak foto. Dan ga jelas itu panda maksudnya buat apaan, hahaha.

Berikut ini menu-menu yang kita order.

Kung Pao Chicken
33.900 IDR
Porsinya standard 3 orang. Errr...2 orang sih kalo makannya pada bar-bar. Ayamnya enak dan gede-gede. Tapi gua masih lebih suka ayamnya Ta Wan.

Seafood & Bean Curd In Clay Poat
38.900 IDR
Nama simplenya, sapo tahu seafood. Yang model begini tuh tahunya sedikit, seafoodnya juga dikit, kuahnya tok yang banyak. Tapi buat bertiga masih okelah. Rasa juga lumayan.

Kailan With Garlic
21.900 IDR
Porsinya pas. Rasanya kurang ya, berasa agak pait. Bawang putihnya juga kurang berasa, padahal kayaknya uda banyak deh.

Kuan Yin Tea
6.900 IDR
Nama simplenya : Teh anget.

Seinget gua nih (dikoreksi ya kalo salah) dulu Rice Bowl kaga pake service tax kan. Pas kemaren gua perhatiin billnya, tiba-tiba ada service tax 5%. Untung kemaren servicenya ga ancur-ancur amat sih. Porsinya juga pas kalo buat gua bertiga sama bokap nyokap. Cuma untuk rasa, makin lama kayaknya makin kurang enak ya. Padahal gua uda lumayan sering makan Rice Bowl di Gandaria City ini. Kokinya ganti kali ya #sotoy

Rice Bowl
Gandaria City
Telp (021) 29053026

24 September 2012

Thank You

21 September 2012

Tokio Kitchen After Pilkada

Jadi gimana Pilkada hari ini? Ada yang libur? Gua dong libur, huahahaha. Si ndud tuh yang ga libur. Kasian. Demi masa depan, gpplah hahaha. 

Dari hasil quick count, kayaknya uda ketauan ya kalo Jokowi-Basuki (JB) yang menang. Sebenernya gua uda memprediksi hal ini sih. Ada beberapa alesan.

1. Campaignnya JB kuat banget. Campaign kumisnya si Foke itu sama kayak 5 taon lalu dan ga semua orang bisa memperkuat branding tersebut. Ibu-ibu dan anak kecil mana bisa berkumis. Sementara baju kotak-kotak? Hari ini gua ke mall, lumayan banyak yang pake baju kotak-kotak. Kampanye yang masuk ke semua kalangan dan ga mengeluarkan banyak biaya.

2. Warga Jakarta merindukan sebuah perubahan. Kita uda memberi kesempatan Foke 10 tahun. 5 tahun sebagai wakil dan 5 tahun sebagai gubernur, tapi koq kayaknya ga ada perubahan. Sama kayak waktu dulu gua milih Faisal Basri, biarpun ga tau nanti hasilnya gimana, setidaknya kita uda mencoba memulai untuk berubah. 

Mudah-mudahan sih, JB bisa membenahi kota Jakarta tercinta ini. Minimal, macet dan banjir bisa segera diatasi. 

Klarifikasi! Ini kelingking ya, bukan jempol. Emang kelingking gua tampil beda, agak buntet gitu, hahaha.

Anyway, abis nyoblos, gua jalan-jalan ama nyokap ke Central Park. Kita nyampe pas uda jam makan siang, jadinya muter-muter nyari makan dulu. Setelah kebingungan sana sini akhirnya kita mutusin buat makan di Tokio Kitchen. Untuk interior, sistem pemesanan, dll, uda pernah gua bahas di sini

Berikut ini menu-menu yang kita order.

Tom Yam Chicken Ramen
43.000 IDR
Karena nyokap pengen makan ramen, jadi dia order ini. Porsinya sih lumayan banyak, kita ampe bisa share berdua. Rasanya asem banget, nyokap ga gitu doyan. Asem asem seger sih, ya namanya juga Tom Yam. 

Volcano Roll
36.000 IDR
Rollnya pendek banget, bentuknya juga mini gitu. Rasanya ya lumayanlah. 

Bulldog Roll
36.000 IDR
Gua order ini karena namanya aneh, hahaha. Bentuknya ga jauh beda sama Volcano Roll, kecil dan mini. Bulldog Roll ini salmon yang digoreng. Rasanya enak, agak garing-garing gitu.

Cold Ocha
8.500 IDR

Hot Ocha
8.500 IDR

Pas kita dateng, tempatnya ga gitu rame. Sementara di Urban Kitchen, ramenya ampun-ampun dah. Emang Tokio Kitchen kayaknya bukan favorit orang-orang ya. Beberapa kali gua kesana tempatnya selalu sepi. Mungkin karena mereka spesialis Japanese food. Kan ga semua orang doyan makanan Jepang. Atau karena harganya yang mahal-mahal?

Tokio Kitchen
Central Park Mall lt. 2
Telp 021-29200028

19 September 2012

Time Slip Dr. Jin




Cast :

Song Seung Hun : Jin Hyuk
Park Min Young : Yoo Mi Na / Hong Yong Rae
Kim Jaejoong : Kim Kyung Tak
Lee Bum Soo : Lee Ha Eung
Lee So Yeon : Choon Hong

Sinopsis :

Jin Hyuk is a genius neurosurgeon with a cold and severe attitude in his interactions with other people due to his personal pursuit of perfection. Through a mysterious power, Jin Hyuk finds himself transported back in time 150 years. He begins treating people there, but lack of necessary implements and rudimentary medical knowledge of period forces him to seek new ways to aid the sick. Through this challenging process, Jin Hyuk eventually becomes a genuine doctor.

Sinopsis diambil dari sini.

Review :

Sebelum mereview, gua kasih tau dulu buat para penggemar Jaejoong, review ini murni selera gua. Selera tiap orang kan beda-beda. Kalo menurut kalian Jaejoong itu ganteng dan actingnya bagus, ya uda. Berarti selera kalian dan selera gua berbeda, hehehe. Jadi sebelum nimpuk gua, coba dibaca dulu tulisan ini ampe selesai ya. 

Sebelum nonton A Gentleman's Dignity, gua uda nonton episode pertama serial ini. Cuma begitu tau kalo ini series diperpanjang 2 episode, gua langsung beralih ke A Gentleman's Dignity yang waktu gua tonton, di Korea uda tayang sebanyak 16 episode. Begitu uda tinggal 2 episode lagi, malah distopin dulu gara-gara olimpiade. Samimawon dah. Begitu kelar nonton BIG, gua nonton ulang lagi serial ini dari episode satunya, biar ga kepotong-kepotong.

Ceritanya tentang apa? Another time travel story. Mirip-mirip kayak Rooftop Prince atau Queen Inhyun's Man. Bedanya, disini si cowo terlempar ke masa lalu alias jaman Joseon. Tapi kalo kalian pikir ceritanya bakal seringan Rooftop Prince atau Queen Inhyun's Man, kalian salah besar. Ceritanya tergolong berat. Karena tokoh utamanya seorang dokter, serial ini lebih banyak membahas masalah medis. Dan karena terlempar ke masa lalu, serial ini juga banyak membahas sejarah Korea. Menurut gua, di episode-episode awal cukup membosankan. Mulai seru di pertengahan episode. Dan twist di episode 20, 21 lumayan asik, bikin gua mikir. Sayang, endingnya bikin jatoh. Endingnya kayak dipaksain jadi ending.

Gua kurang suka dengan aktingnya Park Min Young disini. Kayaknya masih bagusan waktu dia main di City Hunter. Karena gua ga nonton Sungkyunkwan Scandal, jadi perbandingannya cuma sama City Hunter doang. Aktingnya kayak agak kaku. Ekspresinya sama sekali ga dapet, akting nangisnya datar banget, dan emosinya juga ga masuk, baik sebagai Yoo Mi Na maupun Hong Yong Rae. Dalam bayangan gua, kedua tokoh ini bakal lebih masuk karakternya kalo diperanin sama Han Hyo Joo atau Han Ji Min. 

Aktingnya Song Seung Hun mah uda ga usah diragukan lagi. Dari jaman Endless Love, aktingnya uda mantap. Karakter yang dimainin dia masuk banget. Emosinya juga dapet. Tapi doi kurang ganteng disini, hahaha. Gua masih lebih suka waktu dia main di My Princess. Kalo poninya diturunin jadi ganteng banget. Dan yang gua sebel, disini dia jarang senyum. Padahal kalo senyum kan gantengnya keliatan, hahaha. Tapi sayang, karena aktingnya Park Min Young kurang, chemistry mereka berdua jadi ga dapet. Dan romantic scenenya juga ga ada sama sekali, cuma di episode satu doang.

Sementara Jaejoong, kualitas aktingnya sedikit meningkat dari Protect The Boss. Sayangnya, cuma di episode-episode terakhir baru keliatan aktingnya ada peningkatan. Waktu di episode-episode awal, aktingnya masih kaku banget. Banyak scene yang menutut dia memperlihatkan ekspresi kesel, tapi jadinya koq malah datar. Akting marahnya juga kurang dapet. Di episode 19, aktingnya mulai lumayan, tapi buat gua tetep masih kurang, harusnya masih bisa dieksplore lagi. Padahal gua suka karakternya Kim Kyung Tak ini. Kayak dibikin abu-abu, dibilang orang baik ga juga, dibilang jahat ga juga. Apalagi, belakangan kita dibikin bingung sama karakternya dia.

Cuma Jaejoong kayaknya ga cocok ya pake baju ala jaman Joseon, mukanya terlalu masa kini, hahaha. Kayaknya Jaejoong mendingan main di serial yang bukan saeguk deh. Lebih mendingan lagi kalo dia nyanyi aja, hahaha secara suaranya lumayan bagus. Akting-akting para pemain lainnya juga pada bagus-bagus. Apalagi tokoh-tokoh antagonisnya, gua jadi pengen nabok-nabokin tuh yang jahat-jahat, hahaha.

Karena terlempar ke masa lalu, settingnya pake setting jaman Joseon. Kayaknya mereka punya setting sendiri ya buat dipake shooting film. Tiap kali nonton saeguk, kayaknya settingnya sama semua. Karena si Dr. Jin uda tau sejarah jaman Joseon kayak gimana, jadi ga norak kayak si Lee Gak di Rooftop Prince. Dan karena ini uda kesekian kalinya gua nonton saeguk, jadi uda ga berasa amazed lagi. Cuma yang gua bingung, di tahun 1800an koq jaman Joseon uda kenal pistol ya.

Dan soundtracknya kayaknya jarang diputer, cuma di akhir episode doang diputernya. Jadi agak kurang nempel di kepala gua. Sayang banget sih. Padahal ada banyak scene yang kayaknya lebih menyayat kalo soundtracknya diputer. Kayaknya Song Seung Hun nyumbang lagu ya disini.

Karena serial ini banyak membahas tentang masalah medis, jadi jangan kaget kalo banyak darah dimana-mana. Awalnya gua jijay banget ngeliat kepala orang dibelek gitu *yaaaiikkkss* tapi lama-lama jadi biasa. Asal nontonnya ga sambil makan aja, bisa eneg-eneg nontonnya. Gua mikir, itu gimana shootingnya ya. Biasanya kan kalo shooting adegan dokter lagi melakukan operasi yang dishoot muka dokternya doang, ini dikasih liat semuanya. Malah ampe ada yg diblurin segala. Kalo kalian takut ngeliat darah, mendingan jangan nonton deh.

Nonton serial ini ga bisa dalam keadaan santai, karena kita diajak mikir, hahaha. Jadi kalo lagi pengen nonton cerita yang berat-berat, bolehlah serial ini ditonton. Yang pasti serial ini gua rekomendasikan kepada para dokter bedah, hahaha. Ingat, jangan nonton sambil makan ya.

 Ini cewe makan apa ya, mainnya ama cowo cakep mulu. Mulai dari Yoochun, Lee Min Ho, sampe Song Seung Hun.

Nih... Buat penggemar Jaejoong *biar gua ga ditimpuk* hahahaha.

18 September 2012

Just Thought

Impian pertama...pupus sudah.

Impian kedua...hampir terwujud tapi pada akhirnya pupus juga.

Memang kalo mimpi itu jangan ketinggian ya, harus realistis, dan ga boleh egois. Atau....gua emang dilarang untuk bermimpi ya?

< > Home
Powered by Blogger.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.